PBNU Pertanyakan Rencana Fatwa Haram Premium

3 07 2011

Jakarta, NU Online
Berita mengenai rencana dikeluarkannya Fatwa haram Premium bagi masyarakat yang kaya oleh Majlis Ulama INdonesia (MUI) mendapat berbagai tanggapan. Rais Syuriyah Pengurus Besar NahdlatuKL Ulama (PBNU) KH Ali Musthofa Ya’qub, mempertanyakan illat pengambilan hak orang lain sebagai dasar pengharaman penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Menurut Ali Musthofa, sebuah fatwa harus didasari atas dasar hujjah dan alasan yang kuat. Pasalnya, kriteria dan batasan hak orang lain dalam bersubdisi belum jelas.

“Tidak serta merta mereka yang membeli BBM bersubsidi dianggap telah mengambil hak. Disini perlu kejelasan,” tutur Ali Musthofa baru-baru ini.

Lebih lanjut Ali Musthofa yang juga Pengasuh Pesantren Darus Sunnah ini menjelaskan, semestinya pemerintah mensosialikan maksimal kebijakan pembatasan tersebut. Sosialiasi akan meberikan kejesalan tentang persentasi hak-hak dalam BBM bersubsidi.

Baca entri selengkapnya »





Raih Sukses Dengan Kendali Diri

26 04 2011

Bagaimana kita bisa meyakinkan orang, jika kita sendiri belum yakin? Bagaimana kita bisa memimpin orang, jika kita belum bisa memimpin diri sendiri? Bagaimana kita bisa mengendalikan kesempatan untuk meraih sukses, jika kita belum bisa mengendalikan diri sendiri? Yang memiliki peran paling besar dalam meraih sukses adalah diri kita sendiri, demikian yang diungkapkan oleh David Niven, PhD dalam bukunya 100 Rahasia Sederhana dari Orang-orang Sukses. Bagaimana prinsip kendali diri dan langkah apa yang bisa kita ambil untuk belajar mengendalikan diri? Simak yang berikut ini.

HIDUP SEIMBANG

Prinsip utama yang perlu kita perhatikan untuk belajar melakukan kendali diri adalah prinsip untuk hidup seimbang. Anton, yang telah dua tahun berupaya mencari pekerjaan, ternyata sampai saat ini pun belum berhasil mendapatkannya. Telah puluhan surat lamaran, dan interview yang dijalaninya, tetapi hasilnya nihil. Ternyata permasalahan terletak pada usahanya untuk mengendalikan kondisi fisiknya. Setiap kali akan menghadapi interview, Anton sangat stress, sehingga ia tidak bisa tidur dan makan tidak teratur. Akibatnya pada hari interview, Anton tidak tampil fit dan kurang konsentrasi karena terlalu lelah, terlalu tegang, dan kurang istirahat. Di pihak lain, Tino, seorang staf keuangan di sebuah perusahaan asuransi, merasa frustasi karena walaupun sudah bekerja lebih dari lima tahun, ia tidak pernah naik pangkat. Ia selalu saja ”disalip” oleh rekan-rekannya yang lebih junior dalam usia maupun dalam lama bekerja. Setelah diselidiki, pokok persoalannya berasal dari emosi Tino yang tidak stabil, sering naik turun. Kadang ia sangat antusias dalam menyelesaikan pekerjaan, di waktu lain ia terlihat sangat lesu, ceroboh, kurang bersemangat, bahkan cenderung meledak-ledak ketika menghadapi suatu permasalahan. Tentu saja pimpinan tidak mempertimbangkan Tino untuk naik pangkat karena emosinya yang tidak bisa dikendalikannya (walaupun keterampilan fisik dan pikirannya sudah memenuhi syarat. Dua contoh di atas menunjukkan pentingnya bagi kita untuk menjadi orang yang hidup seimbang (Successful Living, Institute in Basic Youth Conflicts, 1999), yaitu orang yang bisa mengendalikan aspek fisik, mental, dan emosional, sehingga kita bisa bekerja lebih efektif, memiliki emosi yang lebih matang, dan berpikir lebih bijaksana.

Baca entri selengkapnya »





132 Tahun Menikmati Aura R.A Kartini

18 04 2011

gambar : http://mochihotorusammy.wordpress.comOleh : Patmawati, Sp.**

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apapun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Disini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah katapun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).

Suratyang berisi tentang keresahan R.A Kartini, ketika dimarahi oleh guru ngajinya karena menanyakan makna ayat dalam Al-Qur’an.Suratyang menggambarkan kekritisan Kartini tentang segala sesuatu yang penting dan harus diketahui oleh masyarakat.

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat) yang sedang mengadakan pengajian, Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan KH Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat,Semarang, yaitu tentang tafsir AL-Fatihah. Selesai pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat.

Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

Baca entri selengkapnya »





Lailatul Ijtima’ NU Ranting Setendo

18 04 2011

Pertemua rutin setiap bulan yang diadakan ranting NU Setendo telah dilaksanakan pada hari senin 11 april 2011, bertempat di masjid Baitul Mustaqin lingkungan setendo kel Tukangkayu Banyuwangi.Acara dimulai dengan sholat isya berjamaah kemudian pembacaan Tahlil dan manaqib syeikh Abd qodir Al Jailani oleh syuriah NU Setendo Bpk H. Saperi A.ma. dilanjutkan dengan laporan dari ketua Tanfidziyah H Moh Toha tentang hasil konferensi MWC kec Banyuwangi yang mana dari hasil konferensi tersebut MWC kota telah berhasil  mengadakan pemilihan dan sekaligus membentuk kepengurusan yang  baru periode 2011 – 2015 dengan ketua tanfidziyah bpk Drs. Damaskus beliau adalah bekas pengurus NU ranting kelurahan Pengantigan, dan  syuriahnya KH. Ahmad Sidiq S.Ag. ( Gus Sidiq) beliau adalah adalah kyai muda Banyuwangi pengasuh pondok pesantren Al-Anwari Kelurahan Kertosari Banyuwangi. Yang periode sebelumnya beliau adalah syuriyah II MWC Kota.

Baca entri selengkapnya »





Sikap Pragmatis Barat pada Islam

30 03 2011

Angan angan untuk menciptakan kerukunan global, tampaknya akan selalu mendapatkan rintangan. Kini setelah era perang dingin berakhir beberapa dekade yang lalu, bukan berarti kemitraan global dapat segera terwujud. Apa yang oleh para pengamat diramalkan bakal terjadi, menjadi kenyataan.

Setelah perang ideologi dengan kekuatan politik dan militer menjadi panglima kini kekuatan ekonomilah yang akan menjadi panglima. Persaingan ekonomi tersebut juga berbias pada tindakan tindakan politik yang bertujuan untuk menciptakan ketergantungan Negara Negara berkembang pada Barat.

Baca entri selengkapnya »





Hikmah Dalam Bencana

23 03 2011

sumber : mediaanakindonesia.wordpress.com

Oleh : Sisnowandi

Beberapa waktu yang lalu peristiwa bencana alam terbesar dalam dua puluh tahun terakhir yang melanda Jepang, setelah peristiwa sama yang terjadi pada tahun 1993. peristiwa serupa juga pernah terjadi dinegeri ini yang melanda wilayah Aceh dengan korban ratusan ribu orang meninggal dunia, belum termasuk harta benda dan infrastruktur lain yang tak terhitung kerusakannya.

Kalau kita membandingkan setiap bencana yang terjadi didunia ini baik bencana Tsunami, gempa bumi, Banjir bandang, letusan gunung merapi dan yang lainnya, dampak yang ditimbulkan selalu sama yaitu kerugian materil dan imateril bahkan juga nyawa manusia. Tetapi dalam menyikapi dan “cara pandang” masing masing Negara dalam mengatasi suatu bencana berbeda beda, kita ambil contoh peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh bebarapa tahun yang lalu dengan yang terjadi di Jepang kemarin kalau dari skala peristiwa, tsunami yang terjadi diJepang lebih besar dan lebih dahsyat dengan kerugian materi yang luar biasa. Tetapi dengan kehilangan korban jiwa yang relative sedikit. Sedangkan tsunami yang melanda Aceh korban yang ditimbulkan mencapai ratusan ribu jiwa. Ini menunjukkan bahwa pemerintah dan rakyat Jepang, (terutama pemerintahnya) sigap, cepat dan tanggap menghadapi musibah, dalam arti mereka tahu apa yang harus segera dilakukan dikala bencana datang sehingga dapat meminimalisir jumlah korban yang ada.

Baca entri selengkapnya »





Gus Dur gagal jadi Pahlawan

15 03 2011


Oleh : NURUL YANI*

Nama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akhirya gagal untuk dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional” pada 2010 yang lalu. Hasil keputusan rapat Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan pada 1 November 2010 kemudian disahkan dalam Keppres No 52/TK/2010 tanggal 8 November 2010yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional hanya dua nama, yaitu Johannes Abraham Dimara (Pejuang Pembebasan Irian Barat 1961) dan Johannes Leimina ( tokoh Maluku dalam Konggres Pemuda 1928). Selain Gus Dur meskipun dari sisi persyaratan administrasi sudah lengkap nama tokoh lain yang ikut “gagal” adalah Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI), Soeharto (Presiden kedua RI) dan Pakubuwono X (Jawa Pos 12/11).

Melawan Arus

Banyak tokoh telah mengkaji pemikiran dan pergerakan Gus Dur semasa masih hidup. Bukan saja karena pemikiran Gus Dur sering menyalahi kebiasaan pada umumnya (khariqatul ‘adat) tetapi juga terbukti bahwa berbagai pemikiran Gus Dur Mampu menjadi penggerak masyarakat (community organizer), terutama kaum muslim tradisional yang termanifestasikan dalam komunitas warga Nahdiyin.

Gus Dur sebenarnya sudah menunjukkan identitas sebagai seorang intelektual muslim yang tidak sembarangan, semenjak mengusung ide untuk lebih berorientasi kepada aktualisasi doktrin Islam di Indonesia dalam wajah pribumisasi daripada arabisasi. Kondisi itu bertolak belakang dengan mayoritas new comers pada 1970-an yang lebih tekstualis-formalistis dalam mengimplementasikan doktrin Islam.

Baca entri selengkapnya »