Gus Dur gagal jadi Pahlawan

15 03 2011


Oleh : NURUL YANI*

Nama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akhirya gagal untuk dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional” pada 2010 yang lalu. Hasil keputusan rapat Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan pada 1 November 2010 kemudian disahkan dalam Keppres No 52/TK/2010 tanggal 8 November 2010yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional hanya dua nama, yaitu Johannes Abraham Dimara (Pejuang Pembebasan Irian Barat 1961) dan Johannes Leimina ( tokoh Maluku dalam Konggres Pemuda 1928). Selain Gus Dur meskipun dari sisi persyaratan administrasi sudah lengkap nama tokoh lain yang ikut “gagal” adalah Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI), Soeharto (Presiden kedua RI) dan Pakubuwono X (Jawa Pos 12/11).

Melawan Arus

Banyak tokoh telah mengkaji pemikiran dan pergerakan Gus Dur semasa masih hidup. Bukan saja karena pemikiran Gus Dur sering menyalahi kebiasaan pada umumnya (khariqatul ‘adat) tetapi juga terbukti bahwa berbagai pemikiran Gus Dur Mampu menjadi penggerak masyarakat (community organizer), terutama kaum muslim tradisional yang termanifestasikan dalam komunitas warga Nahdiyin.

Gus Dur sebenarnya sudah menunjukkan identitas sebagai seorang intelektual muslim yang tidak sembarangan, semenjak mengusung ide untuk lebih berorientasi kepada aktualisasi doktrin Islam di Indonesia dalam wajah pribumisasi daripada arabisasi. Kondisi itu bertolak belakang dengan mayoritas new comers pada 1970-an yang lebih tekstualis-formalistis dalam mengimplementasikan doktrin Islam.

Baca entri selengkapnya »





George Tharabisyi: Kritikus Ulung Kritik Nalar Arab al-Jabiri

4 01 2011
PDF Cetak E-mail
Oleh LMINU
Berbicara tentang kejumudan yang terjadi saat ini dalam nalar Arab-Islam, maka kita akan menemukan banyak asumsi dan solusi dalam menyikapinya. Kita juga menemukan tak sedikit dari para pemikir Muslim yang berusaha menawarkan konsep bagaimana seharusnya menyikapi problem-problem kekinian terutama yang berkaitan dengan problematika nalar Arab-Islam. Tapi dari sekian banyak cendikiawan Muslim tersebut, penulis hanya akan mengulas sedikit tentang sosok George Tharabisyi dan karyanya, terutama kritiknya terhadap mega proyek kritik nalar Arab al-Jabiri.
George Tharabisyi adalah seorang pemikir, penulis, penerjemah, dan sekaligus kritikus ternama dalam cakrawala pemikiran Arab-Islam kontemporer. Dilahirkan di sebuah keluarga Kristen di Syiria pada tahun 1939 dan tumbuh dewasa di Lebanon, Syiria. Sertifikat dalam Bahasa Arab ia peroleh dari Universitas Damaskus. Dalam perjalanan hidupnya, selaian pernah menjabat sebagai direktur di salah satu stasiun radio di Damaskus (1963-1964), ia juga pernah menjabat sebagai ketua majalah Dirâsât ‘Arabiyah di Lebanon. Tapi karena di sana perang saudara meletus kala itu, ia pun meninggalkan Lebanon dan memutuskan untuk menetap di Prancis. Di sanalah George Tharabisyi tetap eksis dan produktif menelurkan karya-karya ilmiahnya. Selain produktif mengkritik kritik nalar Arab al-Jabiri, ia juga banyak menerjemahkan buku-buku berkualitas.




Kiai Idham Chalid, Pemimpin Besar dari Amuntai

29 07 2010


oleh Ahmad Fahir
Anggapan sebagian orang bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi massa (ormas) Islam yang bercorak Jawa dan tersentralisasi di Pulau Jawa patut diluruskan. Begitu pula dengan pameo yang menyebut bahwa pimpinan ormas terbesar di Indonesia tersebut mesti berdarah Jawa, terutama Jawa Timur, juga tidak tepat.

Doktor Kiai Haji Idham Chalid (88) yang menghembuskan nafas terakhir pada Minggu pagi pukul0 8.00 WIB di Cipete Jakarta Selatan merupakan fakta sejarah yang paling sahih untuk mematahkan berbagai penilaian sepihak terhadap NU.

Ulama kharismatis NU tersebut bahkan telah menghilangkan dikotomi Jawa non-Jawa dalam konteks politik nasional jauh-jauh hari sebelum banyak pihak memperbincangkannya, yakni sejak tahun 1956 silam atau hanya berselang sembilan tahun setelah kemerdekaan Indonesia.

Kiai Idham Chalid merupakan salah satu tokoh terbesar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Semasa hidupnya, beliau mencurahkan pengabdian bagi bangsa ini melalui NU, ormas Islam terbesar di Indonesia maupun dunia, yang ia geluti sejak masih usia kanak-kanak.

Kiai Idham yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung lima bersaudara dari H Muhammad Chalid.

Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Idham tercatat sebagai tokoh termuda yang pernah memimpin NU. Idham dipilih sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tahun 1956. Saat itu usia Idham baru 34 tahun. Sebuah catatan dan prestasi yang fenomenal baik pada masa tersebut maupun masa kini.
Baca entri selengkapnya »





Sosok Habib Munzir Almusawa

6 05 2010

Dalam aktifitas dakwah, berawal ketika Hb Munzir Almusawa lulus dari Study-nya di Darulmustafa Hadramaut, Yaman, pimpinan Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh Tarim Beliau kembali ke Jakarta dan memulai berdakwah pada tahun 1998 dengan mengajak orang bertobat dan mencintai nabi saw yang dengan itu ummat ini akan pula mencintai sunnahnya, dan menjadikan Rasul saw sebagai Idola.

habib Munzir mulai berdakwah siang dan malam dari rumah kerumah di Jakarta, ia tidur dimana saja dirumah-rumah masyarakat, bahkan pernah ia tertidur di teras rumah orang karena penghuni rumah sudah tidur dan ia tak mau membangunkan mereka di larut malam. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan, Hb Munzir memulai membuka Majelis setiap malam selasa *(mengikuti jejak gurunya Al Habib Umar bin Hafidz yang membuka Majelis minggu-an setiap malam selasa), dan ia pun memimpin Ma’had Assa’adah, yang di wakafkan oleh Al Habib Umar bin Hud Alattas di Cipayung, setelah setahun, munzir tidak lagi meneruskan memimpin ma’had tersebut dan melanjutkan dakwahnya dengan menggalang majelis-majelis di seputar Jakarta.

Baca entri selengkapnya »





Sekilas Tentang Profesor Dr Muhammad Tahir-ul-Qadri

14 04 2010

Syaikh-ul-Islam Profesor Dr Muhammad Tahir-ul-Qadri adalah pemimpin pendiri Minhaj-ul-Quran International (MQI), sebuah organisasi Islam dengan cabang di lebih dari 90 negara di seluruh dunia, bekerja untuk mempromosikan perdamaian dan keharmonisan antara masyarakat dan kebangkitan usaha spiritual berdasarkan ajaran Islam yang benar.

Baca entri selengkapnya »





KH. A.Muchit Muzadi

19 02 2010


Makin Berisi Makin Merunduk

Kalau ada kiai disebut sebagai pakar khitthah, maka yang dimaksud adalah KH Abdul Muchit Muzadi. Salah satu deklarator PKB. Sebab kiai kelahiran Tuban tahun 1925 inilah yang punya konsep khithah, kembalinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) ke kancah perjuangan keagamaan, meninggalkan dunia politik praktis.
Sejak diputuskan khithah bagi Jam’iyah NU pada Muktamarnya tahun 1984 di Ponpes Salafiyah syafi’iyyah Sukorejo, Situbondo, kesibukan Mbah Muchit (sapaan akrabnya) bertambah. Sebab mbah Muchit-lah yang selalu memberikan penjelasan masalah khithah ke masyarakat. Selain itu juga sering menulis tentang khithah di majalah AULA terbitan PWNU Jawa Timur.

Baca entri selengkapnya »





KH Abdul Wahab Hasbullah Pemikir Progresif NU

18 02 2010

Minggu, 15 November 2009 12:56

Oleh: Nidia Zuraya

Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualitas umat beragama dan kadar keimanan seorang Muslim.

KH Abdul Wahab Hasbullah adalah salah satu ulama besar yang dimiliki Indonesia. Kiai Wahab merupakan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU), bersama dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri.

Ketokohan dan keilmuan yang dimilikinya, telah diakui sejumlah kalangan, apalagi di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Wahab merupakan pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dan membaginya dalam dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai upaya menyatukan dua generasi berbeda, yakni kalangan tua dan muda.

Tahun 1916, ia mendirikan organisasi Islam bernama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Kemudian pada 1926, ia ditunjuk sebagai ketua Tim Komite Hijaz yang dikirim ke Makkah untuk bertemu dengan Raja Saud (Arab Saudi), yang bermazhab Wahabi, Ketika itu, gerakan Wahabi di Makkah berencana untuk menghancurkan berbagai situs Islam agar tidak menjadi ‘berhala’ bagi umat. Kiai Wahab meminta kebijakan Raja Saud untuk situs-situs Islam tidak dihancurkan. Tujuannya agar umat bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari situs-situs tersebut. Persoalan ini pula yang melandasi pemikiran KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan Nahdlatul Ulama tahun 1926.

Baca entri selengkapnya »