Ziarah Kubur Menyambut Ramadhan

21 06 2013

Bulan sya’ban telah tiba, sebagian masyarakat kita menamakan bulan sya’ban dengan bulan ruwah. Kata ruwah identik dengan kata arwah, memang keduanya saling berhubungan.

Dinamakan bulan ruwah karena bulan ini adalah bulan di mana para arwah leluhur yang telah mendahului kita menengok keluarga yang ditinggalkan di dunia. Dan keluarga yang masih hidup berbondong-bondong mendoakan arwah para leluhur menjelang bulan ramadhan. Baik melalui do’a, sedekah, tahlil dan tahmid maupun langsung berziarah ke kubur.

Bulan sya’ban menjadi bulan special, artinya ada beberapa tradisi yang berlaku di bulan ini yang tidak dilaksanakan pada bulan-bulan lain. Diantara tradisi itu adalah menengok makam atau meziarahi kubur orang tua, kakek-nenek, saudara, sanak family, suami atau istri, anak atau bapak yang telah mendahului.

Ada banyak macam nama untuk tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan atau di akhir bulan Sya’ban. Sebagian mengatakan dengan istilah arwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah), kosar (sekitar JawaTimur), munggahan (sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi semacam kewajiban yang bila ditinggalkan serasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Prediksi Awal Ramadhan 1434 H

17 06 2013

ramadhananimasi

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) memprediksi awal Ramadhan 1434 Hijriah akan jatuh pada 9 atau 10 Juli 2013, namun NU tetap melakukanrukyatul hilal atau melihat hilal/bulan sabit secara kasat mata.

“Prediksi tanggal 9 Juli atau 10 Juli itu merujuk pada empat kitab dan satu rumus modern yang digunakan ahli hisab di lingkungan NU, namun kami tetap melakukanrukyatul hilal,” kata koordinator Tim Rukyatul Hilal PWNU Jatim, HM Sholeh Hayat, di Surabaya, Ahad.

Menurut dia, waktu ijtimak yang merupakan konjungsi (pertemuan secara astronomis antara rembulan dengan matahari) terjadi pada hari Senin Pon tanggal 8 Juli sekira pukul 14.10 WIB – 14.17 WIB.

“Namun, kitab Sullamun Nayyiren menyebut ijtimak terjadi pada 12.07 WIB, dengan demikian irtifak hilalnya setinggi 02,45 derajat, sedangkan tiga kitab menyebut irtifak masih di bawah ufuk antara 0,16 hingga 0,31 derajat,” katanya.

Ketiga kitab, yakni Nurul Anwar, Irshodul Jadid dan Irshodul Murid menyebut irtifak ketinggian hilalmasih di bawah ufuk antara 0,16-0,31 derajat, sedangkan rumus kontemporer Ephemeris menghitung irtifak hilal juga masih minus 0,32 derajat.

“Jadi, kitab Sullamun Nayyiren dan Irshodul Jadid menyimpulkan 1 Ramadhan pada hari Selasa tanggal 9 Juli, sedang dua kitab dan satu rumus modern menyimpulkan 1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu 10 Juli,” katanya.

Menyikapi hal itu, PWNU Jatim menunggu hasil rapat Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Jatim, hasil Rukyatul Hilal pada 8 Juli 2013, dan hasil Isbat Menteri Agama pada hari yang sama.

“Kita tunggu, apakah bulan Syaban diistikmalkan, disempurnakan 30 hari, atau hilal mungkin dirukyat,” katanya.
Baca entri selengkapnya »





IKHTILAF, SEJARAH DAN SEBAB-SEBAB KEMUNCULANNYA

26 11 2012

Suatu ketika, Sultan Harun Ar-Rasyid meminta izin kepada Imam Malik untuk menggantungkan Kitab Al-Muwaththa‘ di Ka‘bah dan memaksa agar seluruh umat Islam mengikuti isinya. Tapi, Imam Malik menjawab:  Jangan engkau lakukan itu, karena para shahabat Rasulullah SAW saja berselisih pendapat dalam masalah furu(cabang), apalagi (kini) mereka telah berpencar ke berbagai negeri.

Sengaja kami menempatkan catatan sejarah tersebut untuk membuka kran pembahasan seputar khilafiyah. Tanpa berpanjang-panjang menyusun kalimat sebenarnya dengan membaca kisah tersebut kita bisa memetik pelajaran tentang masalah khilafiyah. Namun demikian ada baiknya kita mengetahui apa itu khilafiyah, bagaimana sejarahnya, macam-macamnya, apa saja sebab-sebab yang melatarbelakanginya, dan bagaimana baiknya kita menyikapinya.

Khilafiyah dalam bahasa kita sering diartikan dengan ―perbedaan pendapat, pandangan, atau sikap‖. Masalah khilafiyah adalah masalah yang hukumnya tidak disepakati para ulama. Perbedaan pendapat di antara kalangan umat Islam bukan hanya terdapat dalam masalah fiqih saja, tetapi khilafiyah juga melingkupi berbagai macam hal, seperti siyasah (politik), dakwah, dan lain sebagainya. Sebenarnya, ketidaksepakatan yang terjadi di kalangan umat Islam terkadang hanya pada tataran yang sempit, bahkan seringkali hanya perbedaan penggunaan istilah. Tapi tidak jarang pula tataran perbedaannya luas, yaitu antara halal dan haram.

Khilafiyah atau ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam perkara apa saja, termasuk dalam masalah-masalah pandangan agama adalah sangat wajar. Sesuatu yang mustahil dan akan menjadi suatu keajaiban apabila seluruh umat Islam di dunia ini dapat dipersatukan dalam satu pendapat, pandangan, madzhab, dan sikap dalam masalah ushul, furu, dan siyasah. Hanya sebuah mimpi jika semua umat Islam di seluruh penjuru dunia dapat bersatu padudalam satu istimbat hukum Islam. Akan sangat sulit, dan mustahil bisa tercapai cita-cita orang yang ingin menyatukan umat Islam dalam masalah-masalahtersebut. Sebuah cita-cita yang akan mendapat banyak benturan, dan sia-sia belaka.

Bahkan Dr. Yusuf Al Qaradhawy mengatakan: ikhtilaf pun terjadi di kalangan Nabi dan Malaikat. Adalah Nabi Musa As. berikhtilaf dengan Nabi Harun As. hingga Nabi Musa As. menarik jenggot Nabi Harun As. ketika mendapatkan Bani Israil menyembah anak lembu buatan Samiry.

Begitu pula ikhtilaf Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab terhadap seorang pemuda yang sedang bertaubat yang meninggal dalam perjalanan menuju ke negeri yang baik, apakah diputuskan berdasarkan amalan zhahirnya, ataukah berdasarkan niyatnya.

Baca entri selengkapnya »





KONSEKUENSI ISTIKMAL RAJAB 1432H

3 07 2011


“Laporan dari daerah-daerah menyatakan bahwa ru’yah jum’at petang 1 Juli 2011 tidak berhasil melihat hilal. Maka atas dasar istikmal, awal sya’ban 1432H jatuh pada ahad 3 Juli 2011. Trmksh atas partisipasi Nahdliyyin sekalian.” (LFPBNU)

ISTIKMAL RAJAB DAN RUKYAT AWAL SYA’BAN 1432H

Informasi di atas merupakan sebuah pesan singkat dari KH. Ghozalie Masrurie selaku ketua Lajnah Falakiyyah PBNU (LFPBNU) yang mengabarkan hasil pelaksanaan rukyat yang dilaksanakan oleh warga Nadhliyyin diberbagai pelosok Indonesia yang tidak dapat menyaksikan kemunculan hilal.  Sehingga, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, rajab digenapkan (istikmal)  menjadi 30 hari dan 1 Sya’ban bertepatan dengan hari Ahad, 3 Juli 2011. Pelaksanaan Rukyat Awal Sya’ban memiliki posisi penting karena bulan setelah Sya’ban adalah Bulan Suci Ramadhan dimana umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.

Pada dasarnya, Istikmal pada akhir Rajab 1432H sudah dapat diperkirakan dengan pasti melalui perhitungan  (Hisab) posisi bulan pada tanggal 29 Rajab 1432H (bertepatan dengan tanggal  1 Juli 2011). Pada tanggal 1 Juli 2011 Ijtima’ diperkirakan terjadi pada jam 15:54 LT dan matahari tenggelam pada jam 14:54 LT. Hal ini berarti Ijtima’ terjadi setelah matahari tenggelam sehingga hilal dikatakan belum wujud sehingga dapat dipastikan hilal tidak dapat dirukyat.  Oleh karenanya, berdasar ketentuan NU maupun Muhammadiyah, bulan Rajab digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Baca entri selengkapnya »





PBNU Pertanyakan Rencana Fatwa Haram Premium

3 07 2011

Jakarta, NU Online
Berita mengenai rencana dikeluarkannya Fatwa haram Premium bagi masyarakat yang kaya oleh Majlis Ulama INdonesia (MUI) mendapat berbagai tanggapan. Rais Syuriyah Pengurus Besar NahdlatuKL Ulama (PBNU) KH Ali Musthofa Ya’qub, mempertanyakan illat pengambilan hak orang lain sebagai dasar pengharaman penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Menurut Ali Musthofa, sebuah fatwa harus didasari atas dasar hujjah dan alasan yang kuat. Pasalnya, kriteria dan batasan hak orang lain dalam bersubdisi belum jelas.

“Tidak serta merta mereka yang membeli BBM bersubsidi dianggap telah mengambil hak. Disini perlu kejelasan,” tutur Ali Musthofa baru-baru ini.

Lebih lanjut Ali Musthofa yang juga Pengasuh Pesantren Darus Sunnah ini menjelaskan, semestinya pemerintah mensosialikan maksimal kebijakan pembatasan tersebut. Sosialiasi akan meberikan kejesalan tentang persentasi hak-hak dalam BBM bersubsidi.

Baca entri selengkapnya »





Raih Sukses Dengan Kendali Diri

26 04 2011

Bagaimana kita bisa meyakinkan orang, jika kita sendiri belum yakin? Bagaimana kita bisa memimpin orang, jika kita belum bisa memimpin diri sendiri? Bagaimana kita bisa mengendalikan kesempatan untuk meraih sukses, jika kita belum bisa mengendalikan diri sendiri? Yang memiliki peran paling besar dalam meraih sukses adalah diri kita sendiri, demikian yang diungkapkan oleh David Niven, PhD dalam bukunya 100 Rahasia Sederhana dari Orang-orang Sukses. Bagaimana prinsip kendali diri dan langkah apa yang bisa kita ambil untuk belajar mengendalikan diri? Simak yang berikut ini.

HIDUP SEIMBANG

Prinsip utama yang perlu kita perhatikan untuk belajar melakukan kendali diri adalah prinsip untuk hidup seimbang. Anton, yang telah dua tahun berupaya mencari pekerjaan, ternyata sampai saat ini pun belum berhasil mendapatkannya. Telah puluhan surat lamaran, dan interview yang dijalaninya, tetapi hasilnya nihil. Ternyata permasalahan terletak pada usahanya untuk mengendalikan kondisi fisiknya. Setiap kali akan menghadapi interview, Anton sangat stress, sehingga ia tidak bisa tidur dan makan tidak teratur. Akibatnya pada hari interview, Anton tidak tampil fit dan kurang konsentrasi karena terlalu lelah, terlalu tegang, dan kurang istirahat. Di pihak lain, Tino, seorang staf keuangan di sebuah perusahaan asuransi, merasa frustasi karena walaupun sudah bekerja lebih dari lima tahun, ia tidak pernah naik pangkat. Ia selalu saja ”disalip” oleh rekan-rekannya yang lebih junior dalam usia maupun dalam lama bekerja. Setelah diselidiki, pokok persoalannya berasal dari emosi Tino yang tidak stabil, sering naik turun. Kadang ia sangat antusias dalam menyelesaikan pekerjaan, di waktu lain ia terlihat sangat lesu, ceroboh, kurang bersemangat, bahkan cenderung meledak-ledak ketika menghadapi suatu permasalahan. Tentu saja pimpinan tidak mempertimbangkan Tino untuk naik pangkat karena emosinya yang tidak bisa dikendalikannya (walaupun keterampilan fisik dan pikirannya sudah memenuhi syarat. Dua contoh di atas menunjukkan pentingnya bagi kita untuk menjadi orang yang hidup seimbang (Successful Living, Institute in Basic Youth Conflicts, 1999), yaitu orang yang bisa mengendalikan aspek fisik, mental, dan emosional, sehingga kita bisa bekerja lebih efektif, memiliki emosi yang lebih matang, dan berpikir lebih bijaksana.

Baca entri selengkapnya »





132 Tahun Menikmati Aura R.A Kartini

18 04 2011

gambar : http://mochihotorusammy.wordpress.comOleh : Patmawati, Sp.**

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apapun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Disini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah katapun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).

Suratyang berisi tentang keresahan R.A Kartini, ketika dimarahi oleh guru ngajinya karena menanyakan makna ayat dalam Al-Qur’an.Suratyang menggambarkan kekritisan Kartini tentang segala sesuatu yang penting dan harus diketahui oleh masyarakat.

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat) yang sedang mengadakan pengajian, Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan KH Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat,Semarang, yaitu tentang tafsir AL-Fatihah. Selesai pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat.

Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

Baca entri selengkapnya »