ALIRAN SESAT, SETERU YANG TAK PERNAH BERAKHIR

9 02 2011

“ ALIRAN SESAT DALAM ISLAM SUDAH SEJAK LAMA MUNCUL, BENIH-BENIHNYA MALAH TERLIHAT JELAS SESAAT SETELAH RASULULLAH WAFAT ”.

PERMASALAHAN

Merebaknya aliran sesat dalam masyarakat, diakui Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin, tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia. Menurut definisinya, aliran sesat adalah ajaran yang sudah menyimpang dari aturan baku ajaran agama.

Munculnya aliran sesat ini sangat mungkin disebabkan oleh menurunnya intensitas umat dalam mendalami kembali ajaran Islam. Alhasil ini pun berimbas pada dangkalnya akidah umat sehingga banyak yang akhirnya memahami Islam sekenanya. Ada yang bersikap masa bodo, ada juga yang berfikir agama boleh di inovasi dan ditafsiri sesuka hati..Tak hanya aliran yang jelas-jelas  sesat yang  menjerumuskan umat, aliran yang dibalut baju liberalisme dan pluralisme juga menimbulkan kebimbangan baru, terutama bagi umat muslim pemula.

Sebagaimana diakui oleh seorang muallaf yang juga seorang guru, menurutnya paham-paham seperti itu sebenarnya bertujuan untuk memecah belah Islam “ kalangan Liberalis maupun Pluralis biasanya menggunakan tiga cara dalam menafsiri agama,heoristik (logis), hermeuneutik (melalui penelusuran sejarah), dan holistic (menyeluruh). Dengan kata lain, dalil yang mereka gunakan logis, berlandas pada penelusuran sejarah sehingga hasilnya dapat menyentuh seluruh aspek ajaran Islam.

Dari metode semacam itu justru yang timbul adalah kepentingan diri sendiri sebab mereka tidak menggunakan manhaj (metode) yang sudah disuguhkan dalam Islam. Mereka ingin membebaskan diri dari pakem pakem yang sudah ditetapkan.

Tetapi menurut Prof.Dr. Badri Yatim, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, sebelum jauh membincangkan sesat atau tidaknya sebuah aliran, harus dicari dulu siapa sebenarnya yang berhak menentukan sesat atau tidaknya sebuah ajaran.

“ini masuk dalam wilayah teologi. Kalau merujuknya pada pandangan fukaha, memang kelompok Ahmadiyah dan yang lainnya adalah sesat, tapi kalau merujuk pada aliran murji’ah sebuah sekte yang pernah ada dalam ajaran Islam, Ahmadiyah tidak sesat”

Hampir senada dengan Badri, Prof Dr. Jalaludin Rahmat, cendekiawan Islam yang dituding oleh sebagian kalangan sebagai Syi’ah berpendapat bahwa tidak seorangpun didunia ini yang diberi kewenangan untuk mengadili sebuah ajaran menjadi sesat atau bukan. Bagaimanapun, hak dan kewenangan untuk mengadili sebuah aliran menjadi sesat atau bukan,hanya ditangan Allah swt.

Dua pandangan tersebut tak di nyana dibantah keras oleh KH. Ali Mustafa Ya’qub, anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) “yang berhak menentuka sesat atau tidaknya jelas adalah Quran dan Hadits, lihat surah Al-Ahzab yang menyatakan bahwa barang siapa yang tidak taat kepada Allah dan RasulNya maka dia akan sesat. Dalam Hadits pun sudah sangat jelas diterangkan bahwa Rasulullah saw mewasiatkan kepada umatnya agar berpegang teguh pada al-Quran dan Hadits. Maka, siapa saja yang tidak berpegang teguh pada keduanya dia akan sesat dan menyesatkan”. Tegas pendiri dan pengasuh pesantren Darul Hadits ini.

Baginya, kalaupun ada pihak pihak tertentu yang menolak di sebut sesat bahkan sampai menggugat MUI, bukan soal. Sebab dalam hal ini MUI hanya sekedar menyampaikan apa yang sudah menjadi ketetapan. “hakikatnya yang menyatakan sesat adalah Allah swt bukan MUI atau siapapun”, tandasnya.

Pandangan sang Kyai itu diamini pula oleh Syu’bah Asa, budayawan Islam mantan pemimpin Redaksi Majalah Panjimas. Bahkan selain al-Quran dan Hadits, umat Islam harus berpegang pula pada Ijma’para Ulama. “sebabkonteks persoalan saat inidengan yang dihadapi sahabat Nabisaw berbeda. Kalau dulu biasanya para sahabat lamgsung mengkonfirmasikannya pada Nabisaw,maka sekarang harusnya patuh pada ijma’Ulama”, terang Syu’bah.

Ulama yang membentuk Ijma’ itu pun adalah orang-orang terpilih yang dianggap mumpuni dalam bidang keagamaan. Mereka dating dari segala penjuru dunia. Karena itulah Ijma’ atas suatu bahasan hukum dipertimbangkan dengan sebaiknya, yang membawa kemaslahatan untuk seluruh umat Islam di dunia.

DIALOG, ISLAH, TEOLOGI TOLERAN

Label sesat dan menyesatkan atas sejumlah aliran ini tak urung berdampak pada efek negatif. Tengok saja kasus penyerbuan ormas Islam ke kampus Jamaah Ahmadiyah (baca : Qodian) di Parung, ke pondok I’tikaf Ngaji Lelaku milik Yusman Roy di Malang dan Yayasan Kanker dan Narkoba cahaya Alam milik Ardi Husaini di Probolinggo, beberapa tahun yang lalu, semuanya berujung pada kekerasan.

Tindakan anarkhis sejumlah massa itu sebenarnya menjadi bukti bahwa keberadaan aliran-aliran yang sudah dinyatakan sesat memang meresahkan warga. Guna menghindari tindakan main hakim sendiri, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) meminta pemerintah supaya menjatuhkan hukuman hudud (hukum pidana Islam) terhadap pelaku penyesatan, pemurtadan demi terjaganya eksistensi Islam dari segala bentuk pelecehan dan pengingkaran oleh siapapun,

Tapi kendati Majelis Ulama Indonesia telah memfatwakan sesat atas sejumlah aliran, paham Liberalisme dan plularisme , mereka menolak tindakan anarkis. Ketua MUI KH Amidhan mengatakan”Bagaimanapun, mereka adalah sasaran dakwah kita juga sehingga perlu dirangkul.’

Ucapan ketua MUI ini disambut hangat oleh banyak kalangan termasuk Syu’bah Asa, Badri Yatim dan Kang Jalal. Ketiganya bahkan menghendaki upaya dialog, sebagai cara yang dianggap lenih bijak dan mengakomodir kemaslahatan umat.

“Boleh kita menganggap diri kita benar, tetapi kita juga harus mengusung teologi toleran. Seperti imam-imam mazhab yang berpandangan “pendapatku benar tapi mengandung kemungkinan salah demikian sebaliknya” sehingga tidak menimbulkan fanatisme “ ujar Badri.

Syu’bah bahkan merasa perlu meningkatkan dakwah Islamiyah “Bentuknya bisa dengan membuat selebaran, sepanduk,menambah banyak pengajian, dan lain sebagainya yang intinya mengajak umat mewaspadai agar tidak terjerumus mengikuti ajaran-ajaran sesat”.bahkan kalau perlu Pono menghendaki Islah. “Jadi jangan Cuma dialog yang berujung pada debat kusir. Sebelum berdebat dibuat dulu kesepakatan, siapa yang nantinya kalah, dia harus menerima apa yang sudah menjadi ketentuan” usulnya.

SEKTE

Sekte atau aliran dalam Islam memiliki sejarah panjang, sepanjang perkembangan Islam itu sendiri sebagai sebuah agama. Tak heran bila kemudian sekte-sekte Islam pun bermunculan, dengan corak atau konsep pemikiran yang berbeda-beda. Realita ini mulai nampak paska terbunuhnya Utsman Bin Affan. Setabilitas pemerintahan waktu itu terguncang hebat, Ali Bin Abi Thalib dengan sangat terpaksa menerima bai’at (pengangkatan) kaum muslimin sebagai Khalifah, akan tetapi Muawiyah bin Abi Sufyan dan pendukungnya menolak konstitusi itu sebelum pembunuh Utsman dan alirannya dihabisi. Tak ayal ketegangan pun tak bisa dihindari. Perseteruan itu akhirnya melahirkan tiga sekte besar : syi’ah, Sunni dan Khawarij.

Menurut Badri Yatim, Khawarij merupakan golongan pertama yang mengklaim kebenaran dan menganggap kelompok yang berseberangan dengannya adalah musyrik.sementara orang musyrik, darahnya dianggap halal.

“Ali dibilang sesat karena mau menerima arbitrase kubu Mu’awiyah yang menyerangnya. Lalu muncul syi’ah yang menganggap para sahabat Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman,telah mengkhianati Nabi saw,” tegas lelaki yang juga guru besar sejarah Islam itu. Karena itulah lanjut Badri, Syi’ah tidak mengakui kepemimpinan tiga Khalifah sebelum Ali.

Melihat konteksnya, ketegangan ini sebenarnya lebih dipicu oleh konflik politik daripada perbedaan ideologi. Sebelumnya ideology mereka sama, semuanya merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Baru pada babak berikutnya, paska terjadi perpecahan,tafsir-menafsir atas berbagai dalil agama muncul

Khawarij misalnya, menafsiri ayat ‘Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka dia kafir’ dalil inilah yang dipakai Khawarij dalam menilai semua golongan yang berbeda darinya adalah kafir, bahkan Sayyidina Ali sekalipun,sebaliknya Syi’ah meyakini Ali sebagai penerus Nabi Muhammad saw berdasar pada hadits yang oleh kaum sunni masih dipertanyakan penafsiran haditsnya.

Tuding menuding, serang menyerang membuat umat Islam dirundung ketakutan. Klaim siapa yang sesunggunya benar? “Pada masa-masa seperti itu, kata Badri, “Orang malah lebih enak jadi Kristen daripada jadi Sunni atau Syi’ah. Sebab kedudukan Kristen adalah ahli dzimmah, golongan yang wajib dilindungi.sementara sunni yang tinggal di bawah pemerintahan kaum Syi’ah dianggap pengkhianat atau sebaliknya.

Ketga aliran itu pada perkembangannya menelurkan sekte sekte pecahan yang sulit dideteksi keberadaannya, karena kebanyakan sekte tersebut hanyalah aliran yang punya nama tapi tidak punya penganut dan identitas ideology yang jelas.

Namun ada satu paham yang dianggap paling moderat dan banyak di adopsi kalangan sunni, yakni Murji’ah. “Singkatnya, menurut ajaran ini, semua yang membaca syahadat dianggap beriman meskipun pernah zina, maling, rampok, atau membunuh sekalipun,” tegasnya.

Tapi harus diingat paham ini pun sebenarnya sekedar reaksi dari gencarnya  paham paham yang sudah saling tuding dan menuai pertumpahan darah yang tidak sedikit.alhasil setali tiga uang, paham ini tetap sarat politis.

Pandangan boleh beda, tapi seteru itu sampai kapanpun,mungkin akan terus bergulir mengingat pluralnya sudut pandang kaum muslim dalam memandang dan meyakini Islam.

Tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan itu dengan kekerasankah, mengedepankan dialog, islah, atau harus makin mengintensifkan dakwah agar keyakinan umat Islam tidak goyah.*

Sumber : Majalah Hidayah

Versi Ebooknya dapat di download di Sini


Aksi

Information

One response

13 09 2012
ihsan

Kalau mengikuti uraian Dosen UIN ini(Badri Yatim) susah utk dipedomani, karena dia bicara sbg Ilmuwan yg sumbernya pun banyak dari literatur2 Barat. Jadi bagi kite umat Islam gol.Ahlussunnah wal Jamaah(Sunni) agar selamat, haruslah berpedoman kpd Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yg Benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: