George Tharabisyi: Kritikus Ulung Kritik Nalar Arab al-Jabiri

4 01 2011
PDF Cetak E-mail
Oleh LMINU
Berbicara tentang kejumudan yang terjadi saat ini dalam nalar Arab-Islam, maka kita akan menemukan banyak asumsi dan solusi dalam menyikapinya. Kita juga menemukan tak sedikit dari para pemikir Muslim yang berusaha menawarkan konsep bagaimana seharusnya menyikapi problem-problem kekinian terutama yang berkaitan dengan problematika nalar Arab-Islam. Tapi dari sekian banyak cendikiawan Muslim tersebut, penulis hanya akan mengulas sedikit tentang sosok George Tharabisyi dan karyanya, terutama kritiknya terhadap mega proyek kritik nalar Arab al-Jabiri.
George Tharabisyi adalah seorang pemikir, penulis, penerjemah, dan sekaligus kritikus ternama dalam cakrawala pemikiran Arab-Islam kontemporer. Dilahirkan di sebuah keluarga Kristen di Syiria pada tahun 1939 dan tumbuh dewasa di Lebanon, Syiria. Sertifikat dalam Bahasa Arab ia peroleh dari Universitas Damaskus. Dalam perjalanan hidupnya, selaian pernah menjabat sebagai direktur di salah satu stasiun radio di Damaskus (1963-1964), ia juga pernah menjabat sebagai ketua majalah Dirâsât ‘Arabiyah di Lebanon. Tapi karena di sana perang saudara meletus kala itu, ia pun meninggalkan Lebanon dan memutuskan untuk menetap di Prancis. Di sanalah George Tharabisyi tetap eksis dan produktif menelurkan karya-karya ilmiahnya. Selain produktif mengkritik kritik nalar Arab al-Jabiri, ia juga banyak menerjemahkan buku-buku berkualitas.

Tharabisyi menerjemahkan banyak karya penting yang mencapai lebih dari 200 judul buku terjemahan. Selain itu, ia juga telah banyak menulis buku-buku ilmiah. Di antaranya yaitu karyanya tentang Marxisme yang berjudul “al-Mârkisiyah wa Idiyûlûjiyâ” dan “Sartre wa al-Mârkisiyyah”, karya kritiknya terhadap sastra Arab yang meliputi periwayatan dan cerita-cerita Arab seperti “Allâh fî Rihlah Najîb Mahfûdz al-Ramziyah” dan “al-Âdâb min al-Dâkhil”, dan karya monomentalnya “Naqd Naqd al-‘Aql al-‘Arabî” yang ia tulis dalam kurun waktu 15 tahun yang terdiri dari 4 jilid yaitu “Nadzariyah al-‘Aql al-‘Arabî”, “Isykâliyah al-‘Aql al-‘Arabî, “Wahdah al-‘Aql al-‘Arabî al-Islâmî”, dan “al-‘Aql al-Mustaqîl fi al-Islâm” yang secara khusus ia tulis sebagai kritik terhadap mega proyek “Naqd al-‘Aql al-‘Arabî” karya Muhammad Abid al-Jabiri, seorang pakar filsafat Islam dan pemikir besar Muslim asal Maroko. Karya Tharabisyi tersebut tersusun sangat rapi, sistematis, dan ensikopledis. Cakupan materinya pun sarat dengan kematangan yang menunjukkan luasnya pengetahuan dan wawasan penulisnya.

Dalam salah satu karyanya yang berjudul “Mashâ’ir al-Falsafiyah bayna al-Masîhiyah wa al-Islâm”, Tharabisyi berusaha menguak keterkaitan filsafat antara Kristen dan Islam yang mana menurutnya keduanya bukanlah sekedar cerita tertulis dalam sejarah belaka. Dalam buku ini, ia tak sekedar melemparkan statemen-statemen yang bernada pertanyaan atau penafian antara keduanya (Kristen dan Islam), tapi ia coba menawarkan sebuah konsep atas sejumlah jawaban baru tentang keterkaitan antara kemajuan dan kemunduran nalar di dua peradaban tersebut.

Karya lainnya yang banyak menyorot perhatian para cendekiawan Muslim berjudul “Hirthiqât; ‘An al-Dîmuqrâthiyah wa al-‘Ilmâniyah wa al-Mumâni’ah al-Arabiyah” yang menitik beratkan pada ulasan tentang fenomena-fenomena dan paham-paham yang ada dalam kebudayaan Arab. Hal ini bukan hal baru bagi Tharabisyi, karena kritik atas kritik merupakan spesialisasinya seperti yang tercermin dalam 4 karyanya di atas yaitu “Naqd Naqd al-‘Aql al-‘Arabî”.

Karya-karya ilmiah George Tharabisyi lainnya yang juga sangat berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya di antaranya adalah “Hirthiqât; ‘An al-Dîmuqrâthiyah wa al-‘Ilmaniyah wa al-Mumâni’ah al-‘Arabiyah”, Min al-Nahdhah ilâ al-Riddah; Tamazzuqât al-Tsaqâfah al-‘Arabiyah fî ‘Ashr al-‘Awlamah”, al-Mutsaqqafûn al-‘Arab wa al-Turâts; al-Tahlîl al-Nafsî li Ashab Jama’iyin”, dan lain sebagainya.

Bacaan Tharabisyi sangat luas yaitu mencakup kontemplasi dan penelitian yang sistematis terhadap gabungan buku-buku klasik Yunani, buku-buku filsafat klasik Eropa, dan buku-buku klasik Arab. Tidak hanya di bidang filsafat saja, tapi ia juga mendalami teologi Islam, fikih, dan bahasa secara keseluruhan.

Yang menarik dari sosok George Tharabisyi adalah proses perjalanan intelektualnya, yaitu dari kritik pemikiran dan Marxisme sampai kepada liberalisme. Inilah yang menjadikan pemikirannya semakin kaya. Kalau kita perhatikan, kumpulan tulisannya mengarah pada pembaruan pemikiran filsafat Islam.

Setelah mengetahui sedikit tentang sosok Tharabisyi dan beberapa karyanya, sekarang kita akan melihat sedikit contoh bagaimana ia mengkritik kritik nalar Arab al-Jabiri dan menyuguhkan solusinya. Dalam dua bukunya yaitu “Nadzariyah al-‘Aql” dan “Isykâliyât al-‘Aql al-‘Arabî”, ia mengkritik pemikiran al-Jabiri yang tertuang dalam bukunya “Takwîn al-‘Aql al-‘Arabî” dan “Naqd al-‘Aql al-‘Arabî”. Yaitu, jika landasan metodologi pemikiran al-Jabiri terkungkung dalam problematika akal yang seakan-akan terpenjara, maka Tharabisyi coba menghadirkan stimulan baru dalam wacana kritik atas kritik (naq al-naqd) yang mana ia bukan hanya menawarkan sketsa baru dengan pemisahan problematis nalar yang sulit dimengerti oleh para pembaca karya al-Jabiri, tapi ia juga lebih fokus dalam membuka cengkeraman dogma-dogma yang ada tersebut.

Dalam “Isykâliyah al-‘Aql al-‘Arabî”, Tharabisyi menjelaskan beberapa poin kritiknya terhadap al-Jabiri sebagai berikut: Pertama, tentang problematika kerangka referensi dalam nalar Arab, yang mana al-Jabiri berpendapat bahwa setelah pemisahan mitos-mitos pada zaman kodifikasi, maka muncullah batu loncatan di atas pusat hakekat al-Qur`an itu sendiri. Ia juga berpendapat bahwa era kodifikasi adalah awal kemandegan pemikiran Arab-Islam. Bagaimana tidak, menurut al-Jabiri, manusia pada akhirnya dihadapkan pada materi-materi baku yang tidak dapat diganti atau bahkan dikembangkan. Tharabisyi mengkritiknya dengan berpendapat bahwa era kodifikasi sejatinya merupakan kerangka rujukan bagi nalar Arab atau bisa dikatakan sebagai titik utama bagi peradaban Arab Islam. Kedua, tentang problematika bahasa dan akal, yang mana berbeda dengan al-Jabiri yang mengganggap bahwa bahasa Arab bagaikan sebuah penyakit yang menyerang nalar Arab dan bahasa tidak memiliki nilai historis dan peradaban, Tharabisyi justeru menyanggahnya dengan berpendapat bahwa bahasa Arab sebenarnya memiliki nilai historis yang tinggi yang berkaitan erat dengan peradaban.

Itulah sedikit contoh kritik Tharabisyi terhadap kritik nalar Arab al-Jabiri. Sebenarnya dengan hal itu semua, George Tharabisyi berusaha membuka benteng-benteng epistemologi al-Jabiri dalam nalar Arab. Sebagaimana kita ketahui bersama, hingga saat ini pemikiran al-Jabiri memang masih menuai banyak kritikan dari para cendekiawan Muslim lainnya, karena ia dinilai masih belum konsisten dalam menerapkan metode bayânî, burhânî, dan ‘irfânî. Dan George Tharabisyi adalah salah satu kritikus ulungnya. []

sumber : numesir.com

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: