Metodologi Pemahaman Fiqih Kontemporer

5 06 2010

Oleh: Mukrima*

Tema Fiqh Kontemporer ini sengaja diangkat, mengingat semakin hari kemajuan teknologi dunia berkembang semakin pesat. Apakah itu di dunia informasi, tranportasi, medis, dan lain-lain.

Yang pasti akan banyak tanda tanya besar bagi masing-masing kita, saat dihadapkan dengan berbagai kemajuan di era modernisasi ini dan tinjauannya dalam kaca mata syari`at. Meskipun teknologi memudahkan manusia dalam beraktivitas dan memberikan solusi dalam menghadapi perkembangan zaman, tetapi di sisi lain banyak hal-hal baru yang bahkan sama sekali tidak pernah ditemukan pada masa Rasulullah saw. So, seiring berkembangnya teknologi di era modern ini, kita sebagai penuntut ilmu tidak akan pernah terlepas dari berbagai tanda tanya bagaimanakah persepsi syari`at Islam tentang masalah-masalah kontemporer. Karena sampai kapanpun syari`at selalu mencakup seluruh sisi kehidupan manusia dan tak satupun perbuatan manusia tidak bisa terlepas dari syari`at.

Makalah yang disampaikan mengupas bagaimana metodologi dalam memahami masalah fiqih kontemporer dan menentukan hukum dari satu permasalahan. Untuk mendatangkan hukum dalam suatu permasalahan kontemporer, kita tidak bisa langsung memtuskan dengan mudah bahwa ini halal dan itu haram. Terutama di era modernisasi ini. Tentunya ada beberapa metodologi  yang harus kita ketahui.

Disini disebutkan bahwa kemajuan dan perkembangan zaman terbagi menjadi dua hal yaitu kemajuan yang berhubungan langsung dengan hukum Islam dan yang tidak berhubungan langsung. Dan fiqih itu sendiri ada yang dikenal dengan al-fiqh an-nazilah yang mana permasalahan fiqih disini mempunyai domain yang lebih luas dari yang ada pada masa Rasulullah saw. Adapun alfiqh al-mu`ashirah yang kita kenal memilki cakupan yang lebih sempit dimana permasalahan yang dikaji sama sekali tidak pernah ditemukan pada masa Rasulullah saw.

Untuk mengetahui hukum dari sebuah permasalahan ada beberapa langkah yang harus dilakukan.

Pertama, diagnosis masalah (tahrir mahal an-niza’) dan visualisasi masalah (tashawwur).

Sebuah kaedah yang sangat akrab sering kita dengar “alhukmu ala syain far’un an tashawwurihi“. Jika kita ingin mengetahui hukum sebuah masalah maka kita harus mem-visual-kan masalah itu secara utuh. Agar hasil yang diharapkan juga tepat.

Adapun yang perlu divisualkan (tashawwur) adalah masalahnya dan kondisi yang berada di sekitar masalah. Seperti jika seseorang ingin mengetahui hukum aborsi. Pertama ia harus mengetahui proses aborsi itu dan kondisi yang menyebabkan seseorang melakukan aborsi. Jika ada yang kurang pada visualisasinya maka akan menimbulkan kesimpulan yang tidak tepat.

Hal-hal yang bisa membantu dalam proses visualisasi biasanya dengan bertanya kepada ahli, survey lapangan, menggunakan form tertulis dan lainnya.

Kedua, membingkai masalah dengan fiqih (takyif al-fiqh)

Tahapan-tahapannya adalah:

  1. meruju’ nash dan ijma’ yang ada tentang masalah tersebut, Ini dapat dilakukan dengan melihat nash baik itu umum, khusus, manthuq, mafhum dan yang lainnya. Seperti larangan memakan hewan yang mati terkena sentrum, karena bangkai tidak boleh dimakan terdapat dalam Al Quran QS Almaidah 4.
  2. jika tidak ditemukan maka lanjut pada tahapan berikutnya yaitu takhrij dimana permasalahan yang ada diqiyaskan kepada masalah yang serupa yang pernah ada atau penqiyasan pada pendapat ulama terdahulu. Seperti mengqiyaskan penyalinan mushaf dalam CD/DVD, program komputer dan HP dengan upaya para sahabat mengumpulkan atau mangkompilasikan al Quran.
  3. Dan jika ditemukan masalah yang serupa untuk diqiyaskan, maka hukum permasalah harus dikaji dan disimpulkan dengan kaedah ushul fiqih ataupun kaedah fiqhiyah yang lebih dikenal dengan istinbath al-ahkam. Seperti masalah mencangkok anggota tubuh dan lain-lain.

Ketiga: Memberikan Hukum Masalah

Setelah kedua langkah di atas dipenuhi maka barulah kita masuk kepada tahap menghukumi masalah. Diantara pertimbangan paling fundamen yang perlu diperhatikan adalah hukum masalah tidak menyebabkan raibnya mashlahat tertinggi. Yang lebih dikenal dengan maqashid syari’ah al’ulya.

Setidaknya ada beberapa poin yang harus menjadi pertimbangan ketika hendak menghukumi masalah.

  1. Menimbang antara maslahat dan madharat yang ada pada masalah.
  2. Menimbang kondisi darurat dan kondisi masyarakat luas (‘umum al balwa)
  3. Melihat realita adat, kebiasaan, tempat dan waktu.

Selanjutnya pemateri mencontohkan pemberian hukum yang diterapkan dalam beberapa permasalahan terkini seputar wanita seperti bagaimana hukum wanita haid membaca al-Quran dari HP atau laptop, hukum twitter dan facebook bagi muslimah dan lain-lain.


Sesi tanya jawab berlangsung cukup hangat dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu wah. Diskusi pastinya belum memuaskan karena masih banyak tanda tanya dalam permasalahan fiqh kontemporer ini. Berhubung waktu yang membatasi, Insyaallah kajian fiqih ini akan hadir kembali pada kesempatan berikutnya.

Semoga diskusi perdana fiqih kontemporer ini bisa membukakan inpirasi kita untuk lebih semangat dalam menggali hukum dari berbagai permasalahan kontemporer kah atau yang sudah diketahui semenjak masa Rasulullah saw. Karena sebagai thalibul ‘ilm kita dituntut untuk mengetahui bahkan menguasai hal tersebut untuk disampaikan pada masyarakat nantinya.

Keep fighting!!!!!!!!!!

* penulis adalah Mahasiswi tk.3 Univ.Al-Azhar Kairo, Jur.Syariah Islamiyah

sumber : almakkiyat.wordpress.com


Aksi

Information

2 responses

5 06 2010
moelyadicute

mantab brooo..
lanjutkan😀

di tunggu kunjungan baliknya😀
================================================
Heboh Ariel Peterpan dan Luna Maya
lihat videonya di sini :
http://forumom.com/free/?p=1307

18 01 2012
mansari

klo ada permasalahan baru jangan lupa kirim ke email saya ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: