AYAT MUTASYABIH

2 06 2010

oleh : Habib Munzir Almusawa

Mengenai ayat mutasyabih yang sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi olehsebagian kelompok muslimin sesat masa kini, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan,wajah dll yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid ilahi pada benak kaum muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat ayat dan hadits tersebut.

Sebagaimana makna Istiwa, yang sebagian kaum muslimin sesat sangat gemarmembahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, denganmenafsirkan kalimat “ISTIWA” dengan makna “BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT” , entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat ayat dan Nash hadits lain, bila kitamengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada?, dan berarti …..

Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits

qudsiy disebutkan Allah swt turun kelangit yang terendah saat sepertiga malam

terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no.758, sedangkan

kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir,

Maka bila disuatu tempat adalah tengah malam, maka waktu tengah malam itu tidak

sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti

Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yang terendah, maka semakin

ranculah pemahaman ini, dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka, jelaslah

bahwa hujjah yang mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dengan hadits

qudsiy diatas, yang berarti Allah itu tetap di langit yang terendah dan tak pernah

kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits

Qudsiy mengatakan Allah dilangit yang terendah.

Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang

yang bertanya makna ayat : “Arrahmaanu ‘alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab :

“Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ‘anhu bid’ah (tdk diketahui maknanya, dan

tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini

adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”,

demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : “kulihat

engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yang menjadi

Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yang beliau itu Guru Imam

Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi dalil bagi kita

bahwa hanya orang orang yang tidak baik yang mempermasalahkan masalah ini.

Lalu bagaimana dengan firman Nya : “Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka

telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan

disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yang turut

berbai’at pada sahabat.

Juga sebagaimana hadits qudsiy yang mana Allah berfirman : “Barangsiapa memusuhi

waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada

Ku dengan hal hal yang fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal

hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku

menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia

gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi,

dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya

kuberi permintaannya….” (shahih Bukhari hadits no.6137) Maka hadits Qudsiy diatas

tentunya jelas jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera

lainnya, bagi mereka yang taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah,

pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya

bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.

Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua

pendapat/madzhab dalam menafsirkannya, yaitu:

1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih

Madzhab ini mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd Allah swt,

dengan i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)

Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata “Nu;minu

biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan

membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab

inilah yang juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.

Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh

tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para imam yang memegang

madzhab tafwidh.

2. Madzhab takwil

Madzab ini menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dengan keesaan dan keagungan

Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan

dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya,

sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid

oleh Imam Baajuri)

Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para

sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.

Seperti ayat :

“Nasuullaha fanasiahum” (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan

mereka) (QS Attaubah:67),

dan ayat : “Innaa nasiinaakum”. (sungguh kami telah lupa pada kalian QS Assajdah

14).

Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum

dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda

dengan sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : “dan tiadalah tuhanmu itu

lupa” (QS Maryam 64)

Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : “Wahai

Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan

Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul

‘Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak

mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui

Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?

Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah

Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba

Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, “wa ma’na wajadtaniy

indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau

temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan

menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125)

Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yang

berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari,

Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat

Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).

Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah

swt, sebagaimana firman Nya : “Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki

Kemegahan dari apa apa yang mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para

Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).

Walillahittaufiq


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: