Tentang Bid’ah

5 05 2010



oleh : Habib Munzir Almusawa

BID’AH HASANAH

Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw :

“Barangsiapa membuatbuat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yangmengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuatbuat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yangmengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”  (Shahih Muslim haditsno.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan BaihaqiAlkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

Hadits ini menjelaskanmakna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru  demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah

makna ayat : ………

“ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,

Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demimemperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,

Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah,karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnyaselalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.

Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw :

“Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan…dst”, inilah yang

disebut Bid’ah Dhalalah.

Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannyadan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk

sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan

Tabi’in.

Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelahwafatnya Rasul saw?

Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang

mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah

Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :

“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas

ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an,

lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis

Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh

Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan

dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan

dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd)

adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau

telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah

Alqur’an..!”

Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung

daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan

Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah

saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga

iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku

sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih

Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui

dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku

sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah)

yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan

menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit

onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang

memulainya.

Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah

mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas

melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah

yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata :

“Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri

wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa

kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang

Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat

banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan

sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat

dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal

hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak

Alasshahihain hadits no.329).

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan

sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang

baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah

anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui

bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan

oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa

Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin

melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya

memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula

dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata :

“Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan

Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan

nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.

Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di

Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah

Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa

Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).

Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?,

adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna

Bid’ah?

Bid’ah Dhalalah

Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk

pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti

penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin,

nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar

syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh

Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan bahwa akan

muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin,

bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana

sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas

hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul

saw

Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan

dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran

pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada

perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing,

melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat

Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah

Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan

menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw.

Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat

memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun

Bid’ah Hasanah.

Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh

Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa

mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul

saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena

kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan

tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul

pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-

Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah.

Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena

dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk

mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-

Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak

dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan

sejarah Islam ?

Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra

yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di

zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya,

yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan

hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih

mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita

masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi,

jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah

mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah),

mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal hal baru yang berupa

keburukan (Bid’ah dhalalah)

Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan

Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an,

sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah

menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.

Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan

Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?, maka Abubakar ra

mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra)

meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku

sependapat dengan mereka berdua”.

Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih

menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra,

hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang

dijernihkan Allah swt,

Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka

barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan

mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan

Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah

perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya

berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat

dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi

Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin

Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah

1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah

(Imam Syafii)

Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan

bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan

yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar

bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam

Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah

“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi

berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan

adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri

muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak

sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu

`anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa

membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala

orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan

barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya

dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini

merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir

Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy

rahimahullah (Imam Nawawi)

“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam

islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak

berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang

dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang

baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat

pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua

yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk

dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi `ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah

yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah

yang haram.

Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan

yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila

dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu

syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang Mubah adalah

bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas

diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum,

sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”.

(Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy

rahimahullah

Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang

umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan

segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau

pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam

dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada

kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna

keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku

dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun

setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman

para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?,

berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia

tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak

punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa

memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

Walillahittaufiq

sumber : http://www.majelisrasulullah.org


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: