Ketika Kapitalisasi Partai Menghambat Peran Politik Kaum Muda

19 02 2010

oleh:

M. Ahsanul Khuluq

Wacana peran politik kaum muda kembali mencuat dalam ruang-ruang media. Upaya menampilkan sosok kaum muda agar tampil kepentas politik nasional bermunculan seiring maraknya pesta demokrasi 2009 beberapa waktu yang lalu. Sebagian kaum muda beranggapan keberadaan mayoritas politisi tua diparlemen dan pemerintahan harus dikurangi karena sudah tidak relevan dan tidak memiliki daya dorong bagi perubahan lagi.


Ada dua alasan penting yang cukup rasional untuk diterima jika saat ini wacana peran politik kaum muda seperti menemukan momentum yang pas. Pertama, Faktor kesejarahan, bahwa sejarah indonesia adalah sejarah kaum muda, dimana semua momentum politik nasional selalu melibatkan pemuda, dan pemuda menjadi kunci penting ditiap momentum politik pada zamannya. Kedua, Faktor efektivitas kepemimpinan, dimana kaum muda sudah pasti lebih progresif, energik serta memiliki gagasan-gagasan baru yang lebih maju, sehingga otomatis lebih efektif memimpin ketimbang tokoh-tokoh lama. Apalagi kondisi bangsa indonesia hari ini, adalah fase akhir transisi, seharusnya tokoh-tokoh lama memberikan ruang dan kesempatan bagi kaum muda untuk banyak berperan pada ranah yang krusial. Dan pada titik ini kami bersepakat bahwa peran kaum muda harus diberi tempat yang proporsional.


Momentum Versus Aturan


Namun yang jadi persoalan kemudian bahwa, Momentum yang pas saat ini tidak didukung oleh aturan yang menunjang. Sehingga jika Kepemimpinan muda terus dipaksakan ditengah ketidaksiapan sistem politik untuk memberi prioritas bagi kaum muda dan tidak ada upaya untuk berbenah agar mendapatkan posisi-posisi penting dalam struktur partai politik, memiliki sumber finance yang cukup serta prestasi yang baik dalam partai, maka indikasi gagalnya impian kepemimpinan politik kaum muda dalam system politik Indonesia akan semakin menemukan justifikasinya.


Kelembagaan partai politik Indonesia saat ini ibarat sebuah “Apartemen mewah” yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang sanggup membayar sewa dengan harga yang bersaing, sehingga siapa pun pelaku politik muda yang tidak sanggup membayar mahal dan bersaing akan tenggelam. Situasi ini akan menenggelamkan siapapun pelaku politik muda yang sedang ?beruntung? atau berada di panggung kekuasaan, tapi sayangnya tidak memiliki tempat bergantung yang kokoh dari kuatnya tarikan kapitalisasi partai politik di sekelilingnya. Sehingga wacana kepemimpinan politik kaum muda dipentas nasional akan menjadi impian tanpa kejelasan dan hanya menghabiskan energi social dan politik kaum muda.

Kelembagaan Partai Politik “Apartemen Mewah” Apartemen Mewah yang kami maksudkan adalah kelembagaan Partai politik di Indonesia yang telah diaransemen secara sistematis untuk melanggengkan oligarki partai pasca runtuhnya otoritarianisme orde baru. Implikasi dari aransemen sistematis dan sifatnya yang melanggengkan oligarki partai politik ini, kelembagaan yang lahir memiliki beberapa persoalan krusial didalamnya. Sebuah kelembagaan yang memang secara taken for granted tidak terlalu memberikan prioritas untuk menciptakan kaderisasi pemuda, karena kaum muda secara financial tidak bisa berkompetisi dengar politisi senior, sehingga sulit untuk membayangkan jalan keluar permasalahan bangsa dengan berlandaskan pada kelembagaan politik yang ada saat ini.


Implikasinya kepemimpinan kaum muda tidak lahir secara kompetetif tetapi hadir pada saat politisi tua sudah menjelang tutup usia. Dan celakanya lagi penggantinya masih seputar anak dan sanak keluarga. Akibatnya bangsa ini tersandera sendiri oleh buruknya system kelembagaan partai politik yang ada.


Menyoal Kuota Anak Muda Dalam Pemilu 2009


Memang dilihat dari struktur partai dan model oligarki yang nampaknya mengakar dihampir setiap partai politik yang ada.
Maka tidak ada jalan lain kecuali mendorong gagasan kuota anak muda dalam partai politik dan parlemen.


Akan tetapi ide Kuota anak muda sebenarnya untuk saat ini bisa dikatakan terlambat, sebab UU politik sudah disahkan. Jadi gagasan kuota 50 persen yang disampaikan oleh Ketua Umum KNPI untuk kaum muda dalam pemilu 2009 sangat tidak mungkin diterapkan. Justeru sebenarnya KNPI harus lebih banyak mempersiapkan program peningkatan sumber daya manusia kaum muda dan manajemen kepemimpinan kaum muda.


Satu hal yang paling krusial dipahami bahwa pergantian elit kepemimpinan nasional kedepan akan sangat didominasi oleh orang-orang yang memiliki sumberdaya keuangan yang memadai atau kalangan pengusaha. Ini sebuah trend dimana globalisasi dan pasar bebas mau tidak mau memaksakan kita dan sistem politik kita untuk bisa menerima bahwa kedepan cuman anak-anak muda yang memiliki skil enterpreneurship yang baik sajalah yang bisa bersaing dalam dunia politik.


Kapitalisasi kepentingan kedepan akan menjadi hal yang biasa. Sehingga KNPI sebagai kampium pemuda seharusnya mendorong iklim kewirausahaan pada kaum muda. Karena politik dan uang adalah dua faktor yang akan selalu up to date. Seandainya ada kuota yang diberikan kepada kaum muda tetap saja kaum muda harus siap secara finansial. Gagasan kuota 50 persen akan menjadi gagasan usang jika kaum muda hanya didorong karena idealisme, faktanya gagasan perlu ditopang oleh sumber daya ekonomi yang cukup agar bisa diketahui orang. Ini adalah rumus sederhana dimana kondisi global sudah barang tentu mempengaruhi situasi politik nasional.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: