PEMUDA DARI ZAMAN –KE ZAMAN

18 02 2010


Oleh : M. FARID IRAWAN, SH.

Di akhir masa kenabiannya, Muhammad SAW memberitahu para sahabat bahwa Allah telah menyempurnakan risalah yang dibawanya. Maka para sahabat pun bergembira. Di benak para sahabat, kabar itu berarti mereka telah sukses menjalankan tugas kenabian. Semua bergembira, kecuali satu orang, yaitu Abu bakar RA. Abu Bakar RA yang visioner itu tahu pasti bahwa kabar itu adalah pertanda bahwa ia tak akan lama lagi bersama Rasulullah. Umur Rasulullah tak akan lagi lama. Sama dengan kondisi krisis saat ini. Rakyat sedang dilanda keprihatinan dan kesedihan karena himpitan hidup yang terasa semakin berat. Cerita-cerita pilu menghiasi media, mulai dari bapak f yang kalap memeprkosa anaknya sendiri, atau ketua RT yang dibunuh warganya gara-gara dana kompensasi, hingga jumlah pasien yang bertambah di Rumah Sakit Jiwa.

Namun, di tengah kesedihan itu, ada satu sosok yang bergembira. Sosok itu bernama Pergerakan Mahasiswa dan Pemuda. Mereka gembira bukan karena tidak ikut menderita, tapi karena kondisi krisis ini telah menyalakan kembali semangat perjuangan yang nyaris sirna. Ya, sejarah mencatat, bahwa di setiap zaman krisis selalu muncul pemuda sebagai inspirator perubahan dan penyelamatan.

Hanya Ibrahim AS muda yang berani menghancurkan berhala, saat semua orang getol memuja berhala. Hanya Daud AS muda yang berani maju melawan si raksasa Jaluth saat semua orang mundur teratur. Dan kalau tidak Bung Tomo muda yang berorasi menyala-nyala maka Surabaya mungkin ciut dengan ultimatum Sekutu.

Pena sejarah Indonesia juga mencatat, bahwa para pemuda-lah yang berani berteriak lantang bahwa bangsa, tanah air, dan bahasa mereka adalah Indonesia. Heroisme kaum muda itu sungghuh luar biasa mengingat bahwa saat itu masih 1928. Indonesia belum lagi merdeka, masih berstatus negara terjajah. Kelak, kata ‘tanah air’ inilah yang selalu dipakai untuk menyebut Indonesia. Bukan ‘tanah ibu’ (motherland) seperti lazimnya orang Barat menyebut asal negaranya.

Sekarang, urat nadi pergerakan pemuda akan kembali mengalir deras. Kondisi krisis ini akan menjadi jawaban atas pertanyaan yang selama ini menggelayut di tubuh pergerakan pemuda dan mahasiswa (sebagai core pemuda), yaitu dapatkah gerakan pemuda dan mahasiswa tetap bersikap kritis pada sebuah rezim yang telah (dianggap) demokratis.

Dunia gerakan pemuda dan mahasiswa awalnya sempat gamang dan mengalami disorientasi arah perjuangan setelah rakyat, melalui Pilkada langsung, memilih sendiri pemimpinnya. Legitimasi atau dukungan yang sangat kuat dari rakyat atas pemimpinnya itu telah menjadi mimpi buruk bagi kekritisan gerakan mahasiswa. Pertanyaan berikutnya adalah, akankah nantinya mahasiswa harus berhadapan dengan sesama rakyat di level akar rumput, saat mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Bila gerakan pemuda dan mahasiswa dan pemuda menggunakan aksi-aksi demonstrasi di jalan, maka sebenarnya itu hanyalah salah satu pilihan metode yang dianggap efektif sebagai penyampai pesan kepada pemerintah Adapun audiensi, surat menyurat, dan segala bentuk prosedural birokrasi lainnya merupakan langkah komplemen, karena prosesnya yang bertele-tele. Aksi mahasiswa ini tak dapat dipandang sebelah mata. Karena sebelum turun ke jalan, selalu dilakukan riset, analisis dan diskusi ilmiah. Diskusinya bahkan kadang mengundang narasumber yang dipandang relevan dan memiliki kompetensi.

Jika pemimpin bangsa ini sejenak mengenang pidato pengangkatan Abu Bakar RA sebagai khalifah, maka akan ditemui kalimat yang berbunyi bahwa : ”orang yang lemah (tertindas) adalah dikuat di mataku hingga ia mendapatkan apa yang menjadi haknya”. Maka, pemimpin bangsa ini tak punya alasan sama sekali untuk mengabaikan teriakan-teriakan rakyat dan mahasiswa. Apalagi menjadikan teriakan itu sebagai Vox Clamantis in Deserto (jeritan di padang pasir), tak didengar dan tak diperhatikan.

Jumlah kaum muda intelektual tidak banyak di negeri ini. Jika patokannya pendidikan tinggi, maka BPS menyebutkan angkanya tidak lebih dari 2 % saja dari jumlah seluruh penduduk. Dari 2 % itu, yang tergolong kritis tidaklah banyak. Mahasiswa yang apatis dan cuek bebek masih lebih banyak jumlahnya daripada mahasiswa yang memiliki kepekaan sosial.

Lalu, apa yang membuat tidak semua mahasiswa dan pemuda mampu berpikir kritis dan menjadi kekuatan pendobrak ? Jawabannya ternyata terletak pada apa yang disebut dengan pola pendidikan.

Secara umum, sebagian besar umur kaum muda dihabiskan di bangku pendidikan. Seseorang yang diwisuda saat berumur 22 tahun, berarti menghabiskan 16 tahun usianya di sekolah atau kampus. Enam belas tahun itu terdiri dari 12 tahun SD-SMA, 4 tahun kuliah. Sisanya yang enam tahun adalah masa kanak-kanak sebelum masuk Sekolah dasar.

Sehingga praktis, sekolah atau pendidikan adalah penanggungjawab utama dalam proses pembentukan pola pikir dan pola perilaku seorang pemuda. Jika pola pendidikannya tepat, maka tak harus menunggu wisuda kuliah usai, sejak masih berseragam putih abu-abu pun kita sudah dapat merasakan kekritisan dan kiprah seorang pelajar kepada lingkungannya. Namun kebalikannya, jika pola pendidikannya tidak tepat, biarpun gelarnya S2, belum tentu ia mampu melibatkan diri dalam proses penyelesaian masalah-masalah di masyarakat. Pengamat pendidikan, Andreas Harefa, menyebut pola yang salah ini menjadi Sekolah sebagai Candu.

Makna sejati pendidikan adalah merubah ilmu menjadi kepribadian. Ilustrasinya, jika kita belajar tentang sampah yang dapat diurai tanah (organik), maka dapatkah dalam keseharian, kita memilih mengonsumsi benda-benda yang sampahnya bersifat ramah lingkungan ? Semisal wadah atau bungkus yang berasal dari kertas atau karton dan bukan plastik atau sterofoam yang susah terurai. Jika bisa, maka ilmu itu telah menjadi kepribadian. Bila dilakukan dengan konsisten, dari sini kelak, akan lahir sosok yang memiliki daya kritis tinggi terhadap pelestarian lingkungan.

Jika kita tarik benang merahnya, pendidikan bervisi ilmu yang menjadi kepribadian itu, ternyata dilakukan dengan cara : satu, pembelajaran terpadu (integrated learning). Maksudnya, mempelajari kasus atau tema dari banyak sudut pandang disiplin ilmu secara bersamaan, baik dari kaca mata sains, matematika, dan bahasa, juga pengaruhnya pada akhlak sosial dan eksistensi Tuhan (Agama).

Kedua, berbasis pada pengakuan adanya anugerah kecerdasan yang berbeda pada setiap murid. Howard Gardner menyebutnya Multiple Intellegence. Sehingga cerdas tidak hanya melulu diukur karena bisa membaca, menulis dan berhitung (Linguistik, Logis-Matematika), tapi juga mereka yang bisa mengapresiasi seni (Spasial-Musikal), menguasai olahraga (Kinestetik), peka dan familiar (Inter dan antarpersonal), ataupun pencinta lingkungan (Natural).

Ketiga, pembelajaran dilakukan dengan menyenangkan (Fun Learning), tanpa paksaan atau kondisi tertekan. Dan keempat, pembelajaran yang dilakukan berbasis pengalaman langsung (Learning by doing), bukan sekedar mendengar omongan guru sepanjang hari sambil duduk manis.

Keempat kultur ini, jarang ditemukan di dalam kelas-kelas di sekolah dasar dan menengah di Indonesia. Sehingga jangan salahkan mereka, jika kemudian membawa paradigma belajar konvensionalnya ke jenjang pendidikan tinggi.

Akan lahir dari sini, pemuda yang berkaca mata kuda, mengejar kelulusan tanpa peduli gejolak sosial yang sedang melanda di sekelilingnya dan abai terhadap tugas moral kepemudaaan yang diembannya. Hura-hura adalah cara merayakan hari ulang tahunnya, sementara di kanan-kirinya banyak anak putus sekolah karena tidak punya biaya.. Setelah lulus, pertanyaan klasik di benaknya adalah saya akan melamar kerja dimana, bukannya lapangan kerja baru apa yang bisa saya buat. Jika dia menjadi supervisor, maka para buruh menjadi musuh bebuyutannya. Maka, proyek melahirkan pemuda-pemuda kritis adalah proyek visioner berjangka panjang. Proyek ini bahkan telah dimulai sejak anak masuk Sekolah dasar. Langkah pertamanya dimulai dengan memilih media pendidikan yang tepat bagi mereka. Sedangkan kondisi krisis, merupakan ladang eksperimen terbaik, yang nantinya akan mengenalkan tokoh-tokoh kritisnya. Sama seperti kebenaran (Al-Haq) yang dengan sendirinya mengenalkan para tokoh kebenaran.

Melalui wadah GP Ansor inilah semoga semoga bisa menjadi wadah candradimuka untuk melahirkan embrio-embrio kader muda yang idealis, kritis yang memiliki komitmen perjuangan dan pengabdian dalam membangun character building civil society bangsa Indonesia.

Penulis adalah Ketua PAC GP Ansor Banyuwangi dan Sekjend Lembaga Peneli\tian Sosial Budaya Lokal ”Hasnan Singodimayan Centre”.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: