Raih Sukses Dengan Kendali Diri

26 04 2011

Bagaimana kita bisa meyakinkan orang, jika kita sendiri belum yakin? Bagaimana kita bisa memimpin orang, jika kita belum bisa memimpin diri sendiri? Bagaimana kita bisa mengendalikan kesempatan untuk meraih sukses, jika kita belum bisa mengendalikan diri sendiri? Yang memiliki peran paling besar dalam meraih sukses adalah diri kita sendiri, demikian yang diungkapkan oleh David Niven, PhD dalam bukunya 100 Rahasia Sederhana dari Orang-orang Sukses. Bagaimana prinsip kendali diri dan langkah apa yang bisa kita ambil untuk belajar mengendalikan diri? Simak yang berikut ini.

HIDUP SEIMBANG

Prinsip utama yang perlu kita perhatikan untuk belajar melakukan kendali diri adalah prinsip untuk hidup seimbang. Anton, yang telah dua tahun berupaya mencari pekerjaan, ternyata sampai saat ini pun belum berhasil mendapatkannya. Telah puluhan surat lamaran, dan interview yang dijalaninya, tetapi hasilnya nihil. Ternyata permasalahan terletak pada usahanya untuk mengendalikan kondisi fisiknya. Setiap kali akan menghadapi interview, Anton sangat stress, sehingga ia tidak bisa tidur dan makan tidak teratur. Akibatnya pada hari interview, Anton tidak tampil fit dan kurang konsentrasi karena terlalu lelah, terlalu tegang, dan kurang istirahat. Di pihak lain, Tino, seorang staf keuangan di sebuah perusahaan asuransi, merasa frustasi karena walaupun sudah bekerja lebih dari lima tahun, ia tidak pernah naik pangkat. Ia selalu saja ”disalip” oleh rekan-rekannya yang lebih junior dalam usia maupun dalam lama bekerja. Setelah diselidiki, pokok persoalannya berasal dari emosi Tino yang tidak stabil, sering naik turun. Kadang ia sangat antusias dalam menyelesaikan pekerjaan, di waktu lain ia terlihat sangat lesu, ceroboh, kurang bersemangat, bahkan cenderung meledak-ledak ketika menghadapi suatu permasalahan. Tentu saja pimpinan tidak mempertimbangkan Tino untuk naik pangkat karena emosinya yang tidak bisa dikendalikannya (walaupun keterampilan fisik dan pikirannya sudah memenuhi syarat. Dua contoh di atas menunjukkan pentingnya bagi kita untuk menjadi orang yang hidup seimbang (Successful Living, Institute in Basic Youth Conflicts, 1999), yaitu orang yang bisa mengendalikan aspek fisik, mental, dan emosional, sehingga kita bisa bekerja lebih efektif, memiliki emosi yang lebih matang, dan berpikir lebih bijaksana.

Kendali emosi. Seseorang dengan kendali emosi yang baik, cenderung akan memiliki kendali pikiran dan fisik yang baik pula. Karena emosi datangnya dari dalam, ia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhi kondisi fisik, dan apa yang kita pikirkan. Misalnya saja, kita memiliki emosi positif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi mutakhir, maka otomatis, yang kita pikirkan adalah hal-hal yang berhubungan dengan teknologi mutakhir, kita pun akan membaca dan mencari informasi untuk meningkatkan pengetahuan kita di bidang teknologi mutakhir tersebut. Jadi, untuk meraih sukses, kita perlu memupuk emosi yang konstruktif (antara lain: antusiasme, rasa percaya diri, harapan, pantang menyerah) dan mengendalikan emosi yang destruktif (antara lain: emosi negatif yang mendorong kita untuk cepat putus asa, kecewa, tidak percaya diri, cepat marah). Memiliki ketulusan dalam melakukan apa pun yang dipercayakan kepada kita, juga bisa menumbuhkan emosi yang positif. Orang yang tulus, umumnya lebih nyaman, jarang sekali kecewa, dan lebih bergairah dalam melakukan pekerjaannya, sehingga ia dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik.

Kendali pikiran. Jika belum apa-apa kita sudah berpikir gagal, maka semua tindakan kita akan mengarah pada terjadinya kegagalan, seperti yang kita pikirkan: kita menjadi putus asa karena masalah yang kita hadapi, kita kehilangan percaya diri, karena takut gagal, akhirnya kita tidak berani mencoba sama sekali. Jika kita juga berpikir bahwa suatu pekerjaan tidak mungkin dilakukan, maka kita akan berhenti berpikir untuk mencari solusi, karena merasa pekerjaan itu adalah tidak mungkin dijalankan. Jadi apa yang kita pikirkan, itulah yang kita dapatkan. Jika kita ingin memiliki emosi positif, berpikirlah positif. Jika kita ingin meraih sukses, berpikirlah sukses. Walaupun kita mendapat banyak tantangan dan hambatan, dengan selalu berpikir sukses, kita akan senantiasa berupaya untuk mencari solusi dari persoalan yang kita hadapi, segala tindakan kita pun akhirnya mengarah pada tindakan menuju solusi. Emosi kita juga akan terbawa untuk tetap bergairah meraih sukses yang kita pikirkan.

Kendali fisik. Sebagian besar dari Anda pasti sudah pernah mendengar ungkapan ”Mens Sana in Corpore Sano”, artinya dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ungkapan ini juga diakui para pakar yang meneliti kebiasaan orang sukses. Menurut para pakar, kondisi badan yang fit merupakan salah satu faktor kunci dalam menunjukkan kemampuan kita berfungsi dengan optimal. Jika kita sering sakit-sakitan, maka banyak kesempatan yang akan hilang. Jika kita tidak sering kelelahan, maka banyak hal yang tidak bisa kita lakukan. Tentunya kondisi seperti ini tidak menunjang kita untuk meraih sukses. Banyak orang yang kurang memperhatikan kondisi fisik ini. Mereka hanya memperhatikan pikiran dan emosi saja. Walaupun kita memiliki kemampuan mental yang baik, dan emosi yang positif, tanpa fisik yang fit, kita akan memiliki banyak keterbatasan untuk berprestasi. Untuk meraih fisik yang fit, kita perlu mengendalikan kondisi fisik ini melalui olah raga dan istirahat yang cukup, serta makan yang teratur. Olah raga memperkuat stamina kita. Istirahat cukup menyegarkan tubuh dan otak kita. Sedangkan makan yang teratur, memperlancar metabolisme kita. Dengan kondisi fisik yang fit, kita akan lebih bergairah, dan lebih memiliki energi untuk melakukan tugas-tugas kita, sehingga hasilnya pun akan lebih baik.

STRATEGI KENDALI DIRI

Agar usaha kita berhasil untuk mengendalikan emosi, pikiran, dan fisik, maka kita perlu menerapkan strategi kendali diri sebagai berikut.

Disiplin Diri. Inilah strategi pertama yang perlu kita terapkan. Jika kita sudah mampu mendisiplinkan diri kita sendiri untuk mengendalikan emosi, pikiran dan fisik, maka dengan sendirinya kemampuan kita untuk meraih sukses juga menjadi lebih baik. Misalnya, kita akan lebih mudah untuk mengendalikan orang lain untuk memberikan dukungan bagi kita; kita juga akan lebih mampu mengendalikan perubahan yang terjadi di sekitar kita agar dapat menunjang kita meraih sukses, kita juga bisa mengendalikan permasalahan di sekitar kita, dengan mengubah permasalahan menjadi kesempatan sukses, dan kita pun bisa lebih baik dalam mengatur waktu (bukan kita yang menjadi budak waktu) untuk bekerja lebih cerdas. Prinsipnya adalah kita harus mampu belajar untuk memimpin diri sendiri, dalam mengatur waktu, menetapkan tujuan dan memupuk komitmen untuk mencapai tujuan tersebut.

Motivasi Diri. Orang yang peduli akan menunjukkan prestasi yang lebih baik dalam segala hal yang ia kerjakan (Austin, 2000). Orang yang peduli ini akan bekerja dengan sungguh-sungguh karena ia peduli akan hasil akhir yang akan dicapai. Kepedulian muncul karena dorongan dari dalam (internal motivation) ataupun dorongan dari luar (external motivation). Dorongan atau motivasi dari dalam diri sendiri muncul karena keinginan ataupun mimpi yang kuat untuk meraih sukses. Tercapainya mimpi ini akan membuat kita menitikkan air mata bahagia. Jadi, temukan mimpi atau keinginan yang kuat, yang pencapaiannya bisa membuat kita menitikkan air mata (Misalnya: mimpi untuk memberi bea siswa bagi 500 anak Indonesia untuk melanjutkan sekolah dalam kurun waktu 5 tahun, ataupun mimpi untuk membeli sebuah rumah idaman dalam 10 tahun ke depan). Dorongan atau motivasi dari luar bisa datang dari seseorang (orang tua, kakak atau adik, sahabat, ataupun orang terkenal yang menjadi panutan kita). Motivasi dari luar bisa pula datang dari sebuah peristiwa (kegagalan, kemenangan, ataupun kesedihan). Pengalaman buruk menjadi korban kecelakaan, bisa saja mendorong kita untuk aktif memberikan penerangan pada orang lain, atau masyarakat umum untuk menggunakan sabuk pengaman dan erdisiplin dalam berkendaraan. Pengalaman terhadap saudara dekat yang terkena suatu penyakit, juga bisa memotivasi kita untuk melakukan riset mengenai penyakit tersebut, ataupun mengumpulkan dana untuk membantu orang-orang yang tidak mampu agar memperoleh perawatan terhadap penyakit yang mereka derita.

Percaya Diri. Jika kita sendiri tidak percaya bahwa kita mampu meraih sukses, bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain untuk mendukung kita meraih sukses. Jika dalam bernegosiasi, kita sendiri tidak yakin akan produk ataupun jasa yang kita tawarkan, lebih baik kita tidak melakukan negosiasi, karena kita pasti tidak akan mampu meyakinkan calon pembeli untuk membeli produk atau jasa yang kita tawarkan. Kuncinya dalam hal ini adalah percaya diri. Jika kita telah memiliki rasa percaya diri tinggi, maka kita akan lebih mudah meyakinkan orang lain akan kemampuan kita, karena rasa ini akan menular pada orang-orang sekitar kita. Bayangkan saja jika kita pergi ke dokter untuk konsultasi penyakit kita. Ternyata dokter yang kita kunjungi tidak yakin bahwa ia dapat membantu kita. Dalam kondisi seperti ini, pastilah kita akan pergi ke dokter lain yang menunjukkan rasa percaya diri bahwa ia mampu membantu kita. Demikian juga dengan calon pembeli atau nasabah, jika kita menunjukkan kepada mereka bahwa kita yakin akan kemampuan kita untuk menolong mereka, maka keyakinan ini pun akan menular kepada mereka (mereka juga akan percaya pada kemampuan kita). Pada saat orang lain percaya kepada kita, maka akan mudah bagi kita untuk membangun kerja sama dalam berbagai hal, baik dalam bisnis maupun dalam membina hubungan sosial yang langgeng. Rasa percaya diri bisa dipupuk dengan melakukan perencanaan yang rinci, matang, dan tersusun secara sistematis, serta persiapan yang cukup (baik secara fisik mental, maupun emosional), dan apresiasi terhadap kelebihan dan kemampuan yang kita miliki. Kita juga bisa meningkatkan kepercayaan diri dengan senantiasa mengembangkan keterampilan dan kemampuan kita secara rutin.

Pengembangan Diri. Keinginan untuk selalu mengembangkan diri, merupakan salah satu faktor kunci dalam memupuk kemampuan kita mengendalikan diri. Dengan mempelajari teknik-teknik mengatur waktu yang efektif, kita bisa mencoba untuk mengendalikan waktu (bukan waktu yang mengendalikan kita). Dengan mempelajari informasi tentang pola makan sehat, serta olah raga yang sesuai dengan usia dan kondisi tubuh kita, maka kita akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang sudah kita pahami. Dengan mengerti lebih dalam mengenai strategi ampuh untuk berpikir positif, kita bisa mencoba strategi tersebut untuk memupuk cara berpikir positif (dan mengendalikan pikiran-pikiran yang destruktif) untuk meraih sukses. Yang penting diperhatikan di sini adalah kita perlu mengembangkan diri kita secara terus-menerus, sehingga kita bisa benar-benar menjadi ahli di bidang yang kita tekuni agar kita bisa memupuk rasa percaya diri yang tinggi, dan membuat orang menaruh kepercayaan tinggi juga atas kemampuan kita. Banyak sekali sumber yang bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan diri. Kita bisa belajar dari pengalaman diri sendiri, dan pengalaman orang lain. Kita juga bisa belajar dari kekalahan dan kegagalan yang kita alami, sehingga kita bisa menggunakan kekalahan dan kegagalan ini sebagai batu loncatan untuk meraih sukses. Kita berkembang kalau kita berubah.

Jangan takut pada perubahan, karena perubahan merupakan pelajaran yang berharga. Jadi, jangan biarkan perubahan terjadi sia-sia, jadikan perubahan itu berarti (petik pelajarannya, ambil hikmahnya, dan nikmati kemajuan yang dihasilkannya). Sumber lain (selain buku-buku, artikel, dan pelatihan yang kita jalani) yang bisa kita gunakan untuk mengembangkan diri adalah masukan dari musuh ataupun pesaing kita. Jika kita mendapat kritik, komentar yang menyakitkan dari lawan, perhatikan komentar dan kritik tersebut, kalau memang ternyata ada benarnya, coba lakukan langkah-langkah konkret untuk memperbaiki yang dianggap jelek sehingga menjadi baik, dan mengganti yang dianggap rusak dengan yang lebih baik.

Jadi jika kita ingin mengendalikan faktor keberuntungan untuk berpihak kepada kita, jika kita ingin mengendalikan hasil yang kita dapatkan dari apa yang kita kerjakan, maka yang perlu kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Jika kita ingin menaklukkan musuh, maka yang harus kita taklukkan terlebih dahulu adalah diri kita sendiri. Setelah kita memahami prinsip untuk mengendalikan diri sendiri dan strategi yang bisa kita lakukan untuk memupuk kemampuan kita akan kendali diri, jangan berhenti sampai di sini. Pengetahuan dan pemahaman akan sia-sia tanpa tindakan. Sukses tidak akan datang tanpa perbuatan.

Jadi, langkah berikutnya adalah mencoba. Sukses untuk Anda.a

 


Aksi

Information

6 responses

29 04 2011
arik

tulisan yang sangat menarik…..terima kasih atas infonya,ini

9 05 2011
nusetendo

terima kasih kunjungannya semoga usahanya sukses selalu

2 10 2011
mawan

luar biasa kata-katanya.furchange

26 10 2011
made budiarsa

bagus ni tulisanna pak… saya jadi lebih bersemangat untuk mulai meyakinkan diri saya,..

20 11 2011
nusetendo

trima kasih atas kunjungannya pak made

18 07 2013
iwan tidung

Kadang mengendalikan diri itu sulit.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: